Minggu, 19 Februari 2012

dongeng remaja


Putri dan Tiga Peri


“Nak, ibu ingatkan agar kamu tidak pergi terlalu jauh dari rumah. Apalagi sampai masuk ke dalam hutan yang ada di seberang sungai itu. Kamu mengerti?”
“Mmm. Memang kenapa bu?” tanya Sheila bingung.
Sheila merupakan anak yang masih kecil. Dia masih lugu dan sanat polos. Ia sangat disayang oleh kedua orang tuanya. Umurnya masih empat tahun. Baik hati dan suka menolong, adalah kebiasaan yang selalu ditanamkan oleh kedua orang tuanya sejak ia masih kecil.

Seperi biasa, setiap pagi Sheila selalu di bekali roti oleh ibunya. Ibunya adalah seorang pembuat roti yang sangat enak. Hari tu, Sheila sedang duduk duduk di bawah pohon yang sangat besar dan rindang. Dalam hatinya ia bertanya-tanya.
“Kenapa ya, aku tidak boleh masuk ke dalam hutan yang ada disana?” gumamnya dalam hati.
Sheila adalah anak yang sifat keingintahuannya sangat besar. Jika ia tidak tahu tentang satu hal, maka ia akan bertanya dan mencari tahu supaya ia menjadi tahu. Ia anak yang sangat cerdas meskipun ia masih belum sekolah. Setiap hari ia selalu memandangi hutan yang ada dihadapannya saat ini. Hutan itu sangat berkabut. Ia ingat dengan perkataan tetangga dekatnya.
“Di hutan yang sangat berkabut yang ada disana, sebaiknya kamu jangan pernah berpikiran untuk pergi kesana. Banyak monster dan hantu-hantu jahat yang akan membawa kalian pada ketakutan. Karena di sana sangat amat menyeramkan” kata tetangganya suatu waktu kemarin.
“Apa benar itu bi? Aku tidak percaya sebelum aku melihatnya sendiri.”
“Nak, kamu masih kecil. Orang tua saja belum tentu berani untuk masuk ke dalam hutan tersebut.” Kata Ibu Sheila.
Namun hal tersebut membuatnya semakin bertanya-tanya dengan apa yang ada didalam hutan berkabut itu. Benarkah ada monster dan mahluk jahat yang bersemayam disana?

Bagaikan sebuah tanaman yang selalu disirami dan diberi pupuk seiap hari. Tanaman tersebut tumbuh menjadi besar dan kian lebat. Hingga akhirnya ia menghasilkan buah dan biji-bijian dari pohon tersebut. Seperi halnya dengan gadis kecil yang bernama Sheila ini. Setiap hari ia selalu penasaran dengan cerita-cerita tentang isi hutan disana.
Ibu, aku tadi bermimpi tentang hutan yang ada disana. Tapi sesaat aku ingin masuk ke dalam hutan tersebut, aku tiba-tiba terbangun.” Ceritanya kepada ibunya.
“Ohh, itu tandanya kamu harus segera bangun dan membantu ibu menyiapkan roti-roti ini untuk dijual. Atau jangan-jangan kamu.. sini ibu lihatnya, pasti kamu ngmpol lagi? hahahaha” canda ibunya sambil memberikan ciuman hangat di pagi hari ini.
Merekah senyum Sheila mendapati ciuman dari ibunya yang sangat ia sayangi dan ia kagumi itu.
“yeeee. Meskipun aku masih kecil, tapi aku udah ndak suka ngompol lagi!” katnya sambil pura-pura ngambek kepada ibunya.
Tiba-tiba Sheila bertanya kepada ibunya tentang hutan yang membuatnya penasarean itu.
“bu, kenapa aku ndak boleh masuk ke dalam hutan itu? Trus, kalau aku masuknya sama teman aku, apakah boleh?” cercanya untuk ingin tahu apa yan membuanya tidak boleh masuk kedalam hutan disana.
“hehee.. kamu mau ya dimakan sama mahkluk hutan yang ada disana? Apa kamu ndak takut?tanya ibu.
“Ndak tuh”jawabnya singkat.
“Yakiin?”
“mmm. Yakin”jawabnya meyakinkan.
“nanti, kalau kamu masuk kesana, jangan lupa pake popok dulu ya biar kamu kalau ngmpol, celana mu ndak basah. Hihihihi. Kan kamu selalu ngompol kalau sedan ketakutan.”ejek ibu pada Sheila.
Hal itu membuat Sheila menjadi ngambek dengan ibunya. “hiihiiihii”ibu tertawa geli melihat putri sulungnya itu.

Seperti biasa, setiap pagi Sheila selalu duduk di bawah pohon dekat sunai yang menjadi jarak antara tempat tinggalnya dengan hutan misterius itu. Sambil mengunyah roti buatan ibunya, ia memperhatikan secara seksama jauh ke dalam hutan tersebut. Namu yang dilihat hanyalah kabut yang sangat pekat. Namun tiba-tiba aa yang mengejutkan penglihatannya. “kresek-kresek” suara semak-semak yang bergerak karena tersenggol sesuatu. Di balik kabut ada sosok kecil yang melintas. Sejenak Sheila terkejut dan mulai sedikit takut. Apakah semua cerita itu benar?

Setelah sekian lama tercengang, baru ia percaya bahwa apa yang dilihatnya itu benar adanya. Ada tiga mahkluk hidup kecil mungil sedang bersayap menghampirinya. Mereka adalah peri yang ternyata berasal dari hutan yang berkabut pekat itu. Sheila menawarinya roti yang ada di genggamannya. Ketiga peri kecil itu sangat senang mendapatkan roti tersebut dan menyukainya. Mereka pun berkenalan dengan Sheila, mereka adalah Plea, Pio, dan Plom. Ketiganya sengaja keluar hutan karena dari tadi melihat Sheila sedang memakan sesuatu dan mereka menginginkannya.
“Nama ku Sheila. Kalian berasal dari hutan disana ya? Boleh kah aku melihat rumah kalian?”tanyanya ingin tau.
“pssst...pssttt”Para peri sedang berbisik-bisik.
Sebenarnya, kami sangat dilarang membawa manusia masuk ke dalam hutan kami. Namun karena kamu memaksa kita usahakan”Plea menjawab.
“terimakasih ya”sambut Sheila bahagia.

Dan akhirnya mereka berempat masuk ke dalam hutan berkabut itu. Namun, mata Sheila tidak bisa melihat apa-apa kecuali kabut. Di sana ia melihat banyak sekali jalan yang hampir sama. Jika belum pernah dan belum tahu masuk ke dalam hutan ini, pasti akan sangat tersesat.

Waahh..aku belum pernah melihat tempat seperti ini. Tempat ini sangat indah.” Ucap Sheila kagum.

Tempat para peri begitu indah dan sangat berwarna-warni. Sangat jauh berbeda dengan apa yang terlihat dari luar hutan. Rumah para peri yang berda di atas pohon begitu indah.warna berwarna pelangi sangat membuat siapa saja yang melihatnya akan kagum dan terkejut dengan keindahannya. Para peri terbang berlalu lalang bagai burung terbang bebas di alam terbuka. Pohon-pohon yang masih sangat teduh dan rindang membuat udara menjadi sangat sejuk. Sinar matahari menembuh lebatnya dedaunan pohon menciptakan cahaya surga yang sangat indah dan menawan. Namun Sheila tahu dia seorang penyusup yang harus menyamar agar tidak ketahuan oleh ratu peri. Dia pun meminta ketiga teman barunya untuk mendandaninya agar terlihat seperti peri-peri lain.
“Ubahlah aku menjadi seperti kalian. Agar aku tidak dicurigai oleh teman-teman kalian”pinta Sheila kepada ketiga temannya. “cliing” Sheila berubah seperti ketiga teman perinya.
Ke empat kawan baru itu kembali melanjutkan jalan-jalan mereka ke dalam rumah para peri itu. Melihat betapa indahnya rumah peri dan segala sesuatunya yang belum pernah dilihat oleh Sheila. Tiba-tiba mereka berpapasan dengan Ratu Peri mereka.
“Hey kalian. Siapa anak baru itu? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya? Tanya Ratu Peri sedikit curiga. Ratu Peri melihat sesuatu yang berbeda dari salah satu dari ke empat orang yang ada di hadapannya itu. Plea, Pio, dan Plom bingung untuk menjawab apa.
“Mmmmhh. Dia, eee, dia saudara sepupu kami ratu.” Mereka terpakasa berbohong agar Ratu Peri tidak marah. Karena barang siapa yang membawa masuk manusia ke dalam rumah mereka adalah pelanggaran berat. Dan akan mendapat hukuman yang sangat setimpal. Para peri takut jika keberadaan mereka diketahui oleh manusia, karena mereka takut manusia akan merusak apa yang mereka punya. Sehingga para peri dilarang untuk berinteraksi dengan manusia. Untung saja kali ini ratu percaya akan ketiga ucapan ketiga peri kecil tadi. Namun tiba-tiiba.

“Kalian bertiga mendapat hukuman! Kalian telah melanggar janji peri untuk tidak membawa manusia masuk ke dalam rumah kita! Kalian tahu, itu akan membawa kesusahan bagi kita semua! Kalian bertiga dihukum!”Bentak ratu peri sangat marah. Ketiganya sangat ketakutan. Hukuman kali ini pasti sangat berat. Karena mereka telah melanggar janji peri untuk tidak membawa manusia masuk ke dalam tempat mereka. Di tengah tempat mereka sudah dipersiapkan sebuah kuali besar dan di bawahnya api yang menyala-nyala. Mereka akan direbus!

“Tunggu Ratu!” teriak Sheila. “Bukan mereka yang salah! Aku yang salah! Aku yang memaksa mereka untuk membawa ku ke sini. Jadi hukumlah saja aku! Jangan mereka! Mereka tidak bersalah!” pinta Sheila.
“Hukum anak itu!” perintah Ratu Peri.
Akhirnya, Sheila di masukkan kedalam kuali yang berisi air mendidih itu. Namun secara ajaib, Sheila tidak merasakan panas. Kemudian Ratu memerintahkan Sheila untuk keluar.
Hukumanmu sudah selesai” kata Rau Peri.
Ternyata berkat kejujuran yang di tunjukkan oleh Sheila, ia berhasil lolos dari hukuman Ratu Peri. Kemudian oleh Ratu Peri, ingatannya dengan rumah para peri dihapus dan hanya menyisakan sedikit kenangan indah tentang rumah peri. Dan ia disulap untuk di kembalikan ke rumahnya dalam keadaan tertidur dan membiarkan kenangan yang sedikit itu menjadi mimpi yang akan ia bawa saat ia bangun dari tidirnya nanti.

Sheila terbangun di tempat dimana ia biasanya tidur. Ia sekarang berada di kamarnya sendiri. Di rumahnya. Ia segera bangun dan menuju ibunya.
“Ibu. Tadi aku bermimpi kalau aku bertemu dengan para peri yang sangat indah yang ada di dalam hutan bu.” Ceritanya kepada ibunya. Ibunya tersenyum dan mencium pipi Sheila.

esai kritik

Judul esai:
pesan dalam cerpen islami Dan Malaikat pun Ruku
judul buku:
Dan Malaikat Pun Ruku’
Pengarang:
Ekky Al-Malaky
Penerbit dan Tahun Terbit:
PT Mizan Publika, 2000
Jumlah Halaman:
117 halaman
Komentar:

                Dalam cerpen Dan Malaikat pun Ruku’  karya Ekky Al-Malaky  beliau memberitahukan kepada para pembaca tentang kehidupan saudara muslim yang ada di daerah minoritas. Ekky Al-Malaky mencoba untuk mengungkapkan bahwa pada saat itu islam masih dianggap remeh dan selalu dicurigai oleh agama lain, khususnya bangsa barat. Mereka masih curiga dengan aktivitas Islam. Mencurigai setiap gerak dan kehidupan para saudara islam yang ada di Negara tersebut. Dalam buku ini, penulis berusaha mengungkapkan sebenarnya islam. Islam bukan seperti yang ada dalam kecurigaan mereka selama ini. Penulis ingin membeberkan tentang perlakuan saudara islam yang ada di Negara yang menjadikan mereka menjadi kaum minoritas. Penulis juga menceritakan tentang sebenarnya islam itu tidak jahat, bukan teroris. Lewat tulisannya yang tidak menjudge kaum non islam. Penulis membuatnya seobjektif mungkin agar tidak menciptakan polemik yang lain.
                Dari keseluruhan bagian isi yang terdapat dalam cerita Dan Malaikat pun Ruku’ Ekky Al-malaky telah menyingkap semua kejadian yang telah dialami saudara muslim yang berada di luar negeri dan menjadi kaum minoritas di dalamnya. Dapat diambil kesimpulan dalam cerpen tersebut bahwa sesungguhnya islam itu indah dan bersahabat. Hal ini untuk meyakinkan dan memberitahukan kepada orang lain tentang sesungguhnya islam.

puisi romantis

Satu
Satu hal yang pasti dari dirimu,
Tak kan pernah terbayangkan.
Satu jejak langkah kakimu,
Menuju satu tujuan yang ak tak tahu.
Satu jengkal kecil tanganmu,
Meraih apa yang ingin kau dapati.
Satu kedipan dalam lentik indah matamu,
Menerawang jauh menembus.
Satu hembusan nafasmu,
Sejukkan apa pun yang kamu lintasi.
Satu hal yang tak dapat aku kejar yakni,
Saat kau mencintaiku lebih dari aku mencintaimu selama ini.

Kesan Terhadap Dongeng Indonesia



Peri dan Hutan Berkabut


Dongeng adalah sebuah kisah yang diangkat dari kisah nyata maupun kisah imajinatif menjadi alur perjalanan hidup dan memberikan pesan moral yang diceritakan turun temurun. Dongen biasanya identik dengan penggambaran seseorang yang cantik, tampan, baik hati, tulus, lemah lembut, gagah perkasa dan bernasib baik di akhir ceritanya. Selain itu, konflik yang terjadi selalu melibatkan nenek sihir, saudara tiri, dan sebagainya. Namun pada akhirnya tokoh utama menemukan kehidupan yang bahagia untuk selama-lamanya.

Seperti dongeng yang berjudul “Peri dan Hutan Berkabut”. Dalam cerita diceritakan ada seorang perempuan yang cantik, lugu dan baik hati nya sedang duduk-duduk di bawah pohon, dan kemudian didatangi oleh tiga peri yang kemudian mengajaknya ke hutan di mana peri-peri itu tinggal. Dan pada kahir cerita, gadis itu ternyata telah melakukan kesalahan dengan mendatangi hutan peri itu, kemudian ia dihukum, namun karena ketulusannya ia akhirnya selamat dari hukuman itu.

disebuah desa hiduplah seorang perempuan lugu”
Mereka tidak bersalah, Ratu. Akulah yang memaksa mereka untuk membawaku kemari.” “Kalau begitu, kau harus dihukum menggantikan mereka!” gelegar ratu peri. Sheila dimasukkan ke dalam bak air tertutup. Ia akan direbus setengah jam. Namun ketika api sudah dinyalakan ia tidak merasa panas sedikit pun. “Keluarlah! Kau lulus ujian, ” kata ratu peri. Ternyata kebaikan hati Sheila membuat ia lolos dari hukuman. Ia diperbolehkan pulang dan teman perinya bebas hukuman.”

Dari penggalan cerita diatas dapat disimpulkan bahwa cerita dongen yang ada di Indonesia khususnya merupakan cerita yang monoton.. dari berbagai cerita dongeng penggambaran yang diceritakan selalu seorang yang baik hati yang kemudian berakhir dengan bahagia. Dalam setiap konflik yang dibuat, kebanyakan dilakukan dengan nenek sihir, saudara tiri, sehingga ceritanya kurang bisa berkembang. Namun dongeng tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Karena sasaran utama dari pembuatan dongeng adalah anak-anak kecil. Mereka akan asyik dan antusias jika tokoh-tokoh utama mereka digambarkan dengan sosok yang sangat sempurna. Karena pada masa anak-anak adalah masa dimana ia akan meniru apa yang ia lihat. Sehingga pembuat cerita akan membuat cerita dengan tokoh yang disukai oleh anak-anak. Selain itu memberikan kesan dan pesan moral dalam setiap cerita bahwa kejahatan akan kalah dengan kebaikan.

Hal itu mungkin baik untuk anak-anak pada waktu itu. Namun kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi keesokan harinya. Dalam dongen sering kita melihat penggambaran tokoh utaama yang begitu sempurna. Kemudian adanya tokoh fiktif lainnya seperti peri. Pada dasarnya dalam kehidupan nyata semua itu hanyalah fiktif atau hanya sebuah khayalan dan rekayasa imajinasi manusia belaka. Dalam kenyataannya tokoh-tokoh sempurna iti tidak ada. Hanya saja ada yang mendekati tapi tidak pernah sesempurna yang ada di dongeng. Dikhawatirkan hal itu akan terbawa sampai mereka dewasa nanti.

Anak yang suka berimajinasi dan berkhayal merupakan anak yang cerdas dan kreatif. Namun juga bisa membawa pengaruh kurang baik pada kehidupan saat dewasa kelak. Seorang anak yang dari kecilnya diberi dongeng tiap malam sebelum tidur mungkin saja pada waktu dewasa hal yang teringat tentang cerita dongeng masih terngiang dan teringat. Hal itu bisa kurang bagus. Karena cerita dongeng hanyalah fiktif dan sangat imajinatif, dikhawatirkan saat berada di kehidupan nyata dia hanya berkhayal dan berandai-andai tanpa ada usaha yang jelas. Hal itu sangat membahayakan, karena bisa membuat anak menjadi malas dan hanya menjadi seorang penghayal dan pemimpi.

Untuk itu, alangkah baiknya jika untuk dongeng-dongeng selanjutnya tokoh yang ada di dalam dongeng dibuat sesuai dengan kenyataan dan realita yang ada di masyarakat. Sehingga anak menjadi lebih rasional dalam berfikir. Namun juga tidak menampik kenyataan bahwa imajinasi itu sangat dibutuhkan untuk seorang anak untuk proses tumbuh kembangnya. Namun sekecil apapun hal yang diberikan pada anak, harus diantisipasi baik dan buruknya.




Nama: Danang F
110211413101
off: B